Tentang kesehatan n Gaya hidup

Selasa, 26 Oktober 2010

Atasi Stressssssss

Berhenti mengeluh

Bila kita terus menerus hanya mengeluhkan pekerjaan kita, pikiran kita akan semakin tertekan dan pekerjaan tidak akan selesai juga bukan? Cobalah cari sedikit nilai positif yang bisa diambil, anggap saja ini sebagai sarana belajar bagi Anda. Atau pikirkan hal menarik yang akan Anda lakukan saat menerima gaji.


Tentukan prioritas

Memang kita tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan sekaligus, maka tentukan mana dahulu yang lebih penting dan harus diselesaikan. Jangan pikirkan pekerjaan lain, karena akan membuat konsentrasi Anda terganggu dan pekerjaan lebih lambat selesai.


Tetap rileks dan istirahat

Sesibuk apapun Anda, saat jam istirahat, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk bersantai. Bila mungkin, gunakan waktu istirahat Anda untuk tidur minimal 15 menit. Hal ini dapat membuat tubuh dan pikiran Anda lebih segar.


Makan makanan yang bergizi

Jangan lupa tetap memperhatikan makanan Anda agar gizi tetap tercukupi. Gizi yang cukup dapat membuat tubuh lebih sehat dan bersemangat. Usahakan agar mengkonsumsi cukup buah.


Pulang pada waktunya

Bila pekerjaan bisa dikerjakan besok dan Anda tidak diminta lembur, pulanglah pada waktunya. Ini akan membantu Anda memperoleh waktu lebih banyak untuk beristirahat dan bersantai bersama keluarga.


Minta cuti dan refreshing

Bila Anda sudah sangat penat, cobalah minta cuti pada atasan Anda. Gunakan cuti Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang Anda sukai, misalnya jalan-jalan ke gunung atau pantai. Bila mungkin, ajaklah anak atau keluarga Anda untuk berlibur bersama.

nah yang ini langkah terakhir nihhh

Cari pekerjaan lain

Hal ini merupakan salah satu pilihan jika Anda merasa sudah tidak sanggup lagi melaksanakan pekerjaan Anda. Cobalah cari pekerjaan lain yang berbeda dan Anda sukai. Namun pikirkan dahulu hal ini dengan matang sebelumnya.

dari : Kumpulan info kesehatan

Rabu, 20 Oktober 2010

Empat Hal yang Memengaruhi Siklus Haid

By Irina Damayanti, Mutia Nugraheni - Selasa, 19 Oktober

VIVAnews - Apakah Anda mengalami siklus haid setiap 21 atau mungkin 30 hari? Tidak perlu khawatir, karena itu masih dalam kategori normal. Menurut Lissa Rankin, seorang ginekolog dan penulis buku "What’s Up Down There? Questions You’d Only Ask Your Gynecologist", rata-rata, siklus haid wanita berjalan setiap 28 hari, tapi ada juga yang kurang atau lebih dari itu.

"Secara teknis, siklus normal berlangsung selama 21-35 hari," kata Rankin, seperti dikutip dari www.sheknows.com

Namun, ada hal yang perlu diwaspadai apabila siklus haid berubah secara drastis. Misalnya, jika siklus haid Anda berubah dari 21 hari, lalu bulan berikutnya menjadi 35 hari.

Untuk kondisi demikian, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter. Sebelum itu, Anda perlu tahu empat hal yang bisa memengaruhi siklus haid Anda.

1. Diet dan olahraga

Jika Anda berolahraga dengan keras atau diet ketat, tubuh akan berasumsi Anda tidak fit untuk hamil. Sehingga level estrogen menurun dan proses ovulasi terhambat, haid pun bisa telat dan berhenti sementara waktu. Jadi pastikan Anda sudah berolahraga dan makan secara teratur.

2. Berat badan

Sama seperti diet dan olahraga yang berlebihan, berat badan yang terlalu rendah bisa membuat tubuh berasumsi Anda belum siap untuk hamil. Sehingga, berdampak pada penurunan level estrogen. Begitu juga jika bobot tubuh berlebihan, membuat produksi estrogen lebih dari biasanya sehingga siklus haid tidak teratur.

3. Alat kontrasepsi

Alat kontrasepsi juga ada yang membuat manipulasi pada siklus haid. Hal ini membuat siklus haid terhambat dan tidak tepat jadwal. Biasanya hal ini terjadi pada awal pemakaian. Tetapi karena alat kontrasepsi terdiri dari berbagai jenis, sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika memang Anda bermasalah dengan siklus haid setelah menggunakan kontrasepsi.

4. Stres

Stres berat bisa memengaruhi produksi hormon. Hal ini juga bisa membuat siklus haid berubah menjadi tidak teratur. Untuk itu, coba cari cara mengurangi level stres Anda agar tidak berdampak negatif pada kesehatan.

Manfaat Mengejutkan Buah Apel VIVAnews By Antique, Lutfi Dwi Puji Astuti - Minggu, 17 Oktober

VIVAnews - Mengonsumsi makanan sehat seperti buah memang sangat dianjurkan. Salah satu buah yang bisa Anda masukkan dalam menu sehat harian Anda adalah apel.

Buah berkulit mengilap dan memukau ini ternyata menyimpan banyak manfaat kesehatan untuk tubuh Anda. Seperti dikutip dari laman Shine, ketahui manfaat kesehatan dalam buah apel:

1. Mereka Makanan Lambat

Dikemas dengan kandungan serat lima gram mampu memenuhi 20 persen dari nilai asupan gizi harian Anda. Tekstur buahnya yang renyah bisa memaksa Anda untuk berusaha mengunyah. Kegiatan ini bermanfaat sebagai pengganti senam wajah.

Selain itu, pemanis alami dalam apel mampu memasuki aliran darah secara bertahap, membantu menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin stabil sehingga Anda merasa kenyang lebih lama.

2. Melindungi Paru dan Mencegah Asma

Berdasarkan penelitian yang dikembangkan dari Britania Raya menyatakan, wanita yang mengonsumsi buah apel secara rutin saat mengandung bisa memberikan keuntungan kesehatan pada bayi yang akan dilahirkannya.

Selain itu, konsumsi apel bisa mencegah anak mengembangkan penyakit asma ketika usianya mencapai lima tahun. Buah ini juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan resiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.

3. Pengikis Kolesterol

Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (antioksidan kuat), apel dapat mengambil mereduksi kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi LDL ("buruk") kolesterol, proses kimia yang mengubah menjadi plak penyumbatan arteri.

Trik untuk memaksimalkan manfaatnya, jangan membuang kulitnya, kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan seperti daging.

4. Melawan Kanker

Lab penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah berair dan berdaging renyah ini mampu membunuh pertumbuhan sel kanker. Namun, khasiatnya akan bekerja baik jika buah ini dikonsumsi secara utuh.

Orang yang mengunyah lebih dari satu hari lebih, berisiko rendah menderita kanker, mulai dari kanker mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, dan lain-lain. Para penelitia Italia memperkirakan, mereka yang mengonsumsi apel secara rutin bisa mencegah penyakit mematikan ini 42 persen.

5. Mencegah Pikun Dikemudian Hari

Mungkin karena mereka meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, sehingga kandungan apel mampu menjaga ketajaman otak seiring pertambahan usia, meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer.

Penelitian terbaru ini telah dibuktikan oleh para peneliti dari University of Massachusetts di Lowell.

Sisi Positif Perceraian Bagi Anak VIVAnews : By Siswanto - Selasa, 19 Oktober

VIVAnews – Banyak pasangan suami istri yang terlibat konflik serius dalam rumah tangganya, memilih bertahan untuk tidak bercerai. Alasan mereka, demi anak-anak.

Tapi, menurut penelitian terbaru di Amerika Serikat, ternyata anak-anak akan mengalami dampak yang buruk bila tetap hidup bersama orangtua yang bertengkar terus, seperti dikutip dari Timesofindia.

Anak-anak dari keluarga yang sering berkonflik akan mengalami hubungan yang penuh konflik pula di masa dewasanya, jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar tapi memutuskan untuk bercerai.

"Implikasi yang paling dasar adalah jangan tinggal bersama demi anak-anak jika Anda dalam perkawinan yang hancur," kata peneliti Constance Gager dari Montclair State University di New Jersey.

Penelitian juga mengungkapkan, konflik antara orangtua yang terjadi secara konstan dapat menyebabkan hubungan anak-anak mereka di masa mendatang menjadi memburuk.

"Kalau mereka terus menerus berada di tengah pertengkaran dan orangtua tetap tinggal bersama, itu berarti mereka akan selalu kena dampak konflik itu. Sedangkan jika orangtua mereka bercerai, setidaknya ada kesempatan bagi orangtua untuk mengurangi konflik setelah perceraian, " kata Gager.

Beberapa penelitian juga mengungkapkan, anak yang memiliki orangtua bercerai memang lebih mungkin mengalami perceraian di masa dewasanya. Tapi, ini belum jelas apakah perceraian disebabkan oleh mereka sendiri atau memang konflik orangtua berdampak sangat besar terhadap hubungan anak-anaknya kelak.

Untuk penelitian ini, Gager dan rekan-rekannya menganalisis hasil survei nasional yang melibatkan hampir 7.000 pasangan menikah dan anak-anak mereka di Amerika Serikat.

Hasilnya, anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar, namun akhirnya bercerai justru memiliki hubungan lebih baik di usia dewasanya nanti, dibandingkan anak-anak yang memiliki orangtua yang sering bertengkar tapi tidak memutuskan bercerai.

Penelitian ini telah memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan anak saat mereka menjadi dewasa. Misalnya, apakah anak-anak cenderung memiliki kesulitan bergaul dengan orang lain atau tidak.

Tapi, tidak berarti bahwa perceraian tidak akan mempengaruhi anak-anak dalam jangka pendek, kata para peneliti. “Penelitian menunjukkan, anak-anak akan mengalami krisis selama satu atau dua tahun ketika orangtua bercerai. Tapi, mereka tabah dan bangkit kembali dari perceraian itu,” kata Gager.

Penelitian ini dipresentasikan tahun lalu pada Pertemuan Tahunan Asosiasi Penduduk Amerika. (pet)

Tahu dan Tempe Bisa Picu Sel Kanker Payudara? VIVAnews By Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti - Rabu, 20 Oktober

VIVAnews - Tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai dikenal sebagai makanan murah dan kaya gizi. Konsumsi tahu dan tempe sangat penting bagi wanita, karena dianggap dapat memperlambat penuaan.

Namun, bagi penderita kanker payudara tipe tertentu dianjurkan untuk mengurangi konsumsi tahu dan tempe. Sebab, bisa memicu pertumbuhan sel kanker makin cepat.

Tahu dan tempe mengandung phytoestrogen, yaitu senyawa kimia yang merupakan hormon tumbuhan (phyto artinya tumbuhan), yang memliki struktur kimia menyerupai hormon estrogen pada tubuh manusia. Karena itulah phytoestrogen dianggap bisa membantu menanggulangi masalah penurunan estrogen pada wanita.

Namun, bagi penderita kanker payudara jenis tertentu, konsumsi tahu dan tempe yang bisa memicu makin meningkatnya jumlah hormon estrogen dalam tubuh yang justru bisa merangsang penyebaran kanker lebih cepat.

“Meski tidak semua kanker payudara, namun ada jenis kanker payudara tertentu yang pertumbuhan sel kankernya justru dipengaruhi oleh estrogen. Untuk itu, bagi penderita kanker payudara disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan estrogen seperti tahu dan tempe, termasuk juga kulit ayam,” kata Ahli Kesehatan dan pemerhati gaya hidup lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegeoro Semarang, Dr Grace Judio Kahl, Msc,MH,CHt dalam acara Talk Show Kesehatan di FX Plasa Sudirman, Jakarta.

Meski tahu tempe berbahaya untuk penderita kanker payudara jenis tertentu, makanan yang mudah didapat dengan harga murah ini tetap memiliki manfaat, tentunya bagi mereka yang tidak memiliki pantangan untuk mengonsumsi kedelai.

“Untuk itu, selektif dalam memilih makanan itu penting, terutama bagi Anda yang mengidap penyakit tertentu. Konsultasi dengan dokter ahli gizi untuk membantu mengatur pola makan,” ujar dr Grace.

Senin, 29 Maret 2010

Pestisida picu gangguan otak anak

VIVAnews - Buah dan sayur dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral yang disarankan untuk selalu ada dalam menu sehari-hari. Di balik manfaatnya, sayur dan buah berpeluang membawa racun yang berbahaya untuk pertumbuhan otak anak.

Buah dan sayur yang tidak melalui pencucian sempurna, memungkinkan pestisida yang digunakan untuk membasmi hama masih menempel. Racun jenis chlorpyrifos itu memicu keterlambatan fisik dan mental anak.

Studi terhadap 266 anak di Bronx Selatan dan Utara Manhattan New York Amerika Serikat menemukan, adanya konsentrasi tinggi pestisida dalam darah (lebih tinggi 6,17 pg/gram) memicu penurunan pengembangan psikomotorik dan skor pengembangan mental pada anak usia tiga tahun.

"Penelitian membantu mengetahui apa efek pestisida chlorpyrifos pada perkembangan anak. Ternyata ada hubungan jelas antara bahan kimia , terganggunya perkembangan mental dan motorik anak, bahkan jika ada faktor lingkungan lain yang membahayakan," kata Gina Lovasi, dari Columbia University's Mailman School of Public Health, seperti dikutip dari Healthday.

Hasil penelitian akan dipublikasikan pada American Journal of Public Health edisi Mei mendatang. "Meskipun pestisida dilarang digunakan untuk perumahan di Amerika Serikat, chlorpyrifos dan insektisida organophosphorus masih sering digunakan untuk berbagai keperluan pertanian," kata peneliti, Virginia Rauh.

Pestisida jenis ini sudah dilarang penggunaannya oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS sejak 2001, namun kerap masih digunakan dalam pertanian. Melalui hasil studi tersebut, para peneliti berharap agar para profesional dan pembuat kebijakan mengetahui bahaya pemaparan pestisida bagi ibu hamil dan anak-anak.

copas dari Yahoo.com

Senin, 15 Maret 2010

Remaja yang Sering di Depan Layar Lebih Sulit untuk Menjalin Hubungan

CHICAGO. Remaja yang banyak menghabiskan waktunya di depan layar TV ataupun computer terlihat lebih sulit untuk menjalin hubungan baik dengan orang tua ataupun teman sebaya, demikian menurut laporan dari jurnal Pediatrics & Adolescent Medicine edisi bulan Maret.
Selama lebih dari 20 tahun, remaja telah menggunakan tanpa batas alat bermonitor seperti computer ataupun telepon genggam sebagai media untuk berkomunikasi & hiburan, menurut informasi yang menjadi latar belakang penelitian ini. “Adanya kemudahan untuk tersedia setiap saat & daya tarik yg besar dari aktifitas didepan layar ini telah meyebabkan kesenangan utk tetap terpaku didepan layar, demikian juga adanya kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menggantikan aktifitas lain yang baik utk pertumbuhan & kesehatan” demikian menurut para peneliti. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah bahwa banyaknya waktu di depan layar ini telah mempengaruhi kualitas hubungan baik dengan keluarga ataupun teman.

Dr. Rosalina Richards dari universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru dan rekan-rekannya telah meneliti sebanyak 3.043 remaja yang berusia antara 14-15 tahun pada tahun 2004. Para remaja tersebut telah mengisi kuisioner rahasia mengenai kebiasaan waktu luang mereka & juga mengenai kedekatan mereka dengan orang tua & teman sebaya.

Secara keseluruhan, semakin banyak waktu yang mereka habiskan di depan layar baik di depan computer ataupun televisi maka semakin rendah tingkat keterikatan mereka dengan orang tua (dengan kata lain, kesulitan untuk membentuk suatu hubungan atau keterikatan emosional). Resiko untuk mempunyai keterikatan yang rendah pada orang tua akan meningkat sebanyak 4 % untuk setiap jam yang dihabiskan didepan televise & 5 % untuk setiap jam yang dihabiskan di depan computer. Sebaliknya remaja yang lebih banyak waktunya dihabiskan untuk membaca ataupun mengerjakan pekerjaan rumah dilaporkan memiliki tingkat keterikatan yang lebih tinggi kepada orang tua.

Para peneliti tersebut juga memberikan hasil terhadap hasil wawancara dengan 976 individu yang berusia 15 tahun sejak tahun 1987-1988. Untuk para remaja ini, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk melihat televisi maka semakin rendah tingkat keterikatan dengan orang tua & teman sebaya. Untuk setiap 1 jam waktu yang dihabiskan untuk melihat televisi maka beresiko menurunkan tingkat keterikatan dengan orang tua sebanyak 13 % & dengan teman sebaya sebanyak 24 %. “ Rekomendasi supaya anak lebih sedikit menonton televise kadang berbenturan dengan ketidakmampuan untuk berdiskusi mengenai suatu tayangan popular atau individu tertentu yang dapat menghambat hubungan dengan teman sebaya” menurut para peneliti. Hasil penelitian ini tidak mengemukakan bahwa lebih sedikit menonton televisi pada orang dewasa akan merusak hubungan pertemanan pada orang dewasa.

Ada beberapa penyebab potensial yang mempengaruhi hubungan antara meningkatknya waktu yang dihabiskan didepan layar dengan rendahnya hubungan, misalnya untuk remaja yang memiliki televise di dalam kamarnya bukan saja akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton tetapi juga lebih jarang untuk makan bersama dengan anggota keluarga lainnya. Meskipun demikian dengan semakin meningkatnya kemajuan teknologi didepan layar yang dapat digunakan untuk kepentingan hiburan, komunikasi ataupun pendidikan, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk memonitor efek dari teknologi tersebut terhadap perkembangan sosial, psikologi & juga fisik dari para remaja.

Medicastore.com